Minggu, 13 Februari 2011

Kepada Sdr. Ahmed Abdulloh di Kairo


Sdr. Ahmed Abdulloh, sahabat kami  
Sahabat yang sedang merayakan kemenangan atas jatuhnya Hosni Mubarak di Mesir.Semoga Anda senantiasa berada dalam bimbingan dan petunjuk  Alloh SWT dalam memperjuangkan kebenaran, serta  memberantas bentuk-bentuk kedholiman yang dilakukan presiden bersama antek-anteknya.

Sdr. Ahmed Abdulloh, sahabat kami.
Peristiwa yang Anda rasakan sekarang, sama dengan persaan kami ketika Presiden Suharto meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Habibi sebagai wakilnya. Bangsa kami bersuka cita, seolah-olah kehidupan yang lebih baik, kesejahteraan, keadilan, dan kebebasan berekspresi sudah nampak di depan mata. Seolah-olah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi ciri Orde Baru  akan sirna di bumi pertiwi.

Namun kenyataannya korupsi, kolusi dan nepotisme masih saja menjadi urutan pertama di dunia. Para pejabat lama yang nyata-nyata korup, masih saja dipercaya memegang kendali di instansi-instansi. Para politisi lama  sibuk mencari selamat menjadi kutu-kutu loncat, pindah ke partai-partai baru, atau membuat partai sendiri. Mereka yang dulu penjilat, tiba-tiba beramai-ramai turut menghujat Pak Harto, jadi pahlawan di siang bolong. Sementara politisi-politisi baru kelahiran era reformasi, seperti mendapat rejeki nomplok. Maklum miskin terlalu lama. Maka ketika mereka  terpilih menjadi anggota DPR,  mereka asyik bancakan uang rakyat.   Begitu pula dengan politisi-politisi yang ditempatkan di perusahaan-perusahaan pemerintah, sama pula korupnya. Terus terang mental bangsa kami teramat rapuh untuk memagang amanah. Mungkin bisa dimaklumi, kami sudah lama hidup dalam kemiskinan.

Sdr. Ahmed Abdulloh, sahabat kami.
Mungkin Anda juga membaca bagaimana orang-orang barat menawarkan pemerintahan sipil, menegakan demokrasi, atas dasar hak asasi manusia  (yang mereka buat) Kami juga dulu mempercayai itu. Bahwa itulah satu-satunya demokrasi yang paling baik di dunia seperti apa kata mereka. Apalagi kami mempunyai pengalaman traumatis dengan pola-pola militeristik, sebagaimana terjadi di Aceh, di Timor Timur, dan tempat-tempat lainnya. Itu mungkin baik. Tetapi tolong katakan kepada siapa pun yang nanti jadi presiden, jangan sampai mengurangi anggaran militer. Jika militer lemah dan terus digembosi eksistensinya  oleh sipil yang mengatasnamakan pembela hak asasi manusia, maka bangsa tidak akan ada wibawanya. Dan perlu diingat. Negeri Anda berbeda dengan negeri kami.  Di ketiak negeri Anda ada harimau yang siap menerkam, Israel. Bangsa itu akan lebih leluasa menjajah negara-negara tetangga Anda. Apalagi bangsa itu selalu diuntungkan oleh bangsa-bangsa barat.
Jadi sekali lagi tolong hati-hati kepada isyu-isyu anti militer.  Toh yang Anda kehendaki pasca penggulingan presiden ini adalah, bagaimana bisa terbebas dari korupsi, dan bagaimana pemerintahan tidak berpola militeristik. Bukan berarti anti militer. Cintailah mereka, jangan digembosi seperti di negeri kami.

Sdr. Ahmed Abdulloh, sahabat kami.
Persoalan pilihan demokrasi, dan pemerintahan sipil itu adalah nomor dua. Yang pertama, yang harus segera dilakukan di negeri Anda adalah penegakan hukum. Ini tidak boleh berlarut-larut, terutama kepada koruptor. Dan yang   harus  diadili pertama  adalah para penegak hukum sendiri.  Katakan kepada Kepala Dewan Agung Militer yang mendapat mandat dari Hosni Mubarak, untuk segera menghukum para  koruptor. Bila perlu hukuman mati sebagai sock terapi. Jika tidak berani, selenggarakan pengadilan rakyat.
Karena kesalahan kami dulu, kami tidak segera menangkap dan menjebloskan mereka ke penjara. Malah kami ramai-ramai membuat partai untuk segera menyelenggarakan pemilu., dan terus menerus menghujat Pak Harto sebagai koruptor. Sedangkan antek-anteknya terbebas dari hujatan, bahkan ikut menghujat. Maka ketika pemerintahan baru terbentuk, antek-antek Pak harto tetap bisa memainkan peranannya di parlemen dan di pemerintahan. Inilah kesalahan terbesar.
Padahal kalau waktu itu, setelah pak Harto lengser, kemudian Habibi yang mendapat mandat  sebagai pengganti, didukung oleh gerakan reformasi untuk segera mengadili koruptor-koruptor baik di pusat maupun di daerah, dan  mereka diganjar seberat-beratnya, kalau perlu dihukum mati sebagai sock terapi,  mungkin hari ini Indonesia sudah bisa memetik perjuangan reformis-reformis itu.

Sdr. Ahmed Abdulloh, sahabat kami 
Demikain surat dari kami, semoga bisa dijadikan renungan. Seringkali kami merenung, mengapa orang-orang Islam tidak merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah Rosul? Padahal di situ lengkap menguraikan  cara-cara bernegara, termasuk demokrasi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar